Keutamaan Puasa Tasu'a dan Asyura: Dalil Hadits dan Penjelasan Ulama

Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram (bulan mulia) dalam Islam yang dijuluki sebagai Syahrullah (Bulan Allah). Di dalam bulan yang agung ini, terdapat dua hari istimewa yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim untuk mendirikan shaum (puasa) sunnah, yaitu Puasa Tasu'a (9 Muharram) dan Puasa Asyura (10 Muharram).

Mengapa kedua puasa ini begitu diistimewakan? Apa saja ganjaran luar biasa yang dijanjikan Rasulullah ? di baliknya? Mari kita bedah tuntas keutamaan puasa Tasu'a dan Asyura berdasarkan dalil shahih serta pandangan para ulama.

1. Keutamaan Puasa Asyura (10 Muharram)

Puasa Asyura memiliki akar sejarah yang sangat kuat. Pada hari ke-10 Muharram inilah Allah ? menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun serta menenggelamkan bala tentaranya.

a. Menghapus Dosa Setahun yang Lalu

Keutamaan paling masyhur dari puasa Asyura adalah janji pengampunan dosa. Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ? bersabda:

"Dan puasa di hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu." 
(HR. Muslim no. 1162)

Penjelasan Ulama:
Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa dosa yang dihapuskan dalam hadits ini adalah dosa-dosa kecil (ash-shaghoir). Sedangkan untuk dosa-dosa besar (seperti syirik, durhaka kepada orang tua, atau memakan riba), seorang hamba tetap diwajibkan melakukan taubatan nasuha secara khusus.

b. Puasa yang Paling Dicari Momennya oleh Nabi ?

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bagaimana antusiasme Rasulullah ? terhadap hari Asyura:

"Aku tidak pernah melihat Nabi ? benar-benar menjaga dan mencari-cari keutamaan puasa pada suatu hari melebihi hari ini, yaitu hari Asyura..." 
(HR. Bukhari no. 2006)

2. Keutamaan Puasa Tasu'a (9 Muharram)

Jika tanggal 10 Muharram sudah begitu mulia, lantas mengapa umat Islam juga disunnahkan berpuasa sehari sebelumnya pada tanggal 9 Muharram (Tasu'a)? Jawabannya adalah sebagai bentuk mukhalafah (menyelisihi/membedakan diri) dari kebiasaan orang Yahudi.

Dalil Puasa Tasu'a

Ketika Rasulullah ? berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, para sahabat berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya tanggal 10 itu adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani."

Maka Rasulullah ? menjawab:

"Apabila tiba tahun depan—insya Allah—kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan." 
Ibnu Abbas berkata: "Belum sampai tahun berikutnya, Rasulullah ? sudah wafat terlebih dahulu." 
(HR. Muslim no. 1134)

Penjelasan Ulama tentang Hikmah Puasa Tasu'a

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari merangkum 3 hikmah utama disyariatkannya puasa Tasu'a:

  1. Menyelisihi Yahudi: Agar ibadah umat Islam tidak sama persis dengan ibadah puasa tunggal orang Yahudi di tanggal 10.
  2. Menyambung Hari: Menghindari berpuasa pada hari Jumat atau Sabtu secara sendirian (hari tunggal), jika kebetulan Asyura jatuh pada hari tersebut.
  3. Bentuk Kehati-hatian (Ihtiyath): Mengantisipasi terjadinya kesalahan dalam perhitungan rukyatul hilal awal Muharram. Jika ternyata penanggalan meleset satu hari, seseorang yang berpuasa di tanggal 9 dan 10 otomatis tetap akan mendapatkan keutamaan hari Asyura yang aslinya.

3. Tingkatan Berpuasa di Hari Asyura Menurut Ulama

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Zadul Ma'ad mengklasifikasikan pelaksanaan puasa Muharram ini ke dalam 3 tingkatan afdhaliah (keutamaan):

TingkatanTanggal PelaksanaanKeterangan
Tingkatan Pertama 
(Paling Sempurna)
Berpuasa 3 hari: 
9, 10, dan 11 Muharram
Paling aman dari keraguan rukyatul hilal, serta memborong kesunnahkan "puasa 3 hari dalam setiap bulan".
Tingkatan Kedua 
(Paling Dianjurkan/Masyhur)
Berpuasa 2 hari: 
9 dan 10 Muharram
Tingkatan yang paling banyak diamalkan sesuai dengan cita-cita Rasulullah ? sebelum wafat.
Tingkatan Ketiga 
(Paling Ringan)
Berpuasa 1 hari saja: 
10 Muharram
Tetap sah dan mendapat pahala gugurnya dosa setahun, namun kehilangan keutamaan menyelisihi Ahli Kitab.

Panduan Lafal Niat Puasa Tasu'a dan Asyuro

Bagi Anda yang hendak mengamalkannya, niat puasa sunnah boleh dilakukan pada malam hari hingga pagi hari (sebelum tergelincir matahari/waktu Dzuhur), dengan syarat belum makan dan minum sejak Subuh.

1. Niat Puasa Tasu'a (9 Muharram)

Latin: Nawaitu shauma Tasu'a lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Saya berniat puasa sunnah Tasu'a karena Allah Ta'ala."

2. Niat Puasa Asyuro (10 Muharram)

Latin: Nawaitu shauma 'Aasyuuro'a lillaahi ta'aala.
Artinya: "Saya berniat puasa sunnah Asyuro karena Allah Ta'ala."

Kesimpulan

Memasuki bulan Muharram, jangan biarkan hari-hari berlalu tanpa jejak amal shaleh. Menyisihkan waktu dua hari untuk berpuasa di tanggal 9 dan 10 Muharram adalah "perniagaan" yang sangat menguntungkan dengan Allah ?; menahan lapar dan dahaga belasan jam, ditukar dengan bersihnya catatan dosa kita selama 365 hari ke belakang.

Semoga Allah Swt memberikan kita taufiq, kemudahan, serta keikhlasan untuk menghidupkan sunnah mulia ini. Wallahu a'lam bish-shawab.